Hamasah di Jalan Da'wah
Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.
Jama'ah Penuh Berkah
Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.
Bekerja Untuk Indonesia
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)
Inilah Jalan Kami
Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (12:108)
Biduk Kebersamaan
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Selasa, 29 Mei 2012
مقدمة علم مصطلح الحديث (1)
كتاب الوافي في شرح الاربعين النووية :: الحديث الاول : انما الاعمال بالنيات
" انما " : اداة حصر تثبت المذكور بعدها وتنفي ما عداه .
" بالنيات " : جمع نية ، وهي في اللغة : القصد . وفي الاصطلاح : القصد المقترن بالفعل .
" هجرته " : الهجرة لغة : الترك . وشرعا : مفارقة دار الكفر الى دار الاسلام خوف الفتنة ، والمراد بها في الحديث : الانتقال من مكة وغيرها الى المدينة قبل فتح مكة .
" فهجرته الى الله ورسوله " : قبولا وجزاء.
" لدنيا يصيبها " : لغرض دنيوي يريد تحصيله .
سبب ورود الحديث :
روى الطبراني في معجمه الكبير بإسناد رجاله ثقات ، عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : كان فينا رجل خطب امرأة يقال لها ام قيس ، فأبت ان تتزوجه حتى يهاجر ، فهاجر ، فتزوجها ، فكنا نسميه : مهاجر ام قيس .
وروى سعيد ابن منصور في سننه ، بسند على شرط الشيخين ، عن ابن مسعود قال : من هاجر يبتغي شيئا فإن ماله من ذلك مثل اجر رجل هاجر ليتزوج امرأة يقال لها ام قيس ، فقيل له مهاجر ام قيس .
فقه الحديث وما يرشد اليه
1- اشتراط النية : اتفق العلماء على ان الاعمال الصادرة من المكلفين المؤمنين ، لاتصير معتبرة شرعا ، ولا يترتب الثواب على فعلها الا بالنية .
والنية في العبادة المقصودة ؛ كالصلاة والحج والصوم ، ركن من اركانها ، فلا تصح الا بها ، واما ما كان وسيلة ؛ كالوضوء والغسل فقال الحنفية : هي شرط كمال فيها ، لتحصيل الثواب . وقال الشافعية وغيرهم : هي شرط صحة ايضا ، فلا تصح الوسائل الا بها.
2- وقت النية ومحلها : وقت النية اول العبادة ، كتكبيرة الاحرام بالصلاة ، والاحرام بالحج ، اما الصوم فتكفي النية قبله لعسر مراقبة الفجر .
ومحل النية القلب ؛ فلا يشترط التلفظ بها ؛ ولكن يستحب ليساعد اللسان على استحضارها .
ويشترط فيها تعيين المنوي وتمييزه عن غيره ، فلا يكفي ان ينوي الصلاة بل لابد من تعيينها بصلاة الظهر او العصر .... الخ
3- وجوب الهجرة : الهجرة من ارض الكفار الى ديار الاسلام واجبة على المسلم الذي لا يتمكن من اظهار دينه ، وهذا الحكم باق وغير مقيد ؛ واما خبر " لا هجرة بعد الفتح " فالمقصود به " لاهجرة من مكة بعد فتحها ، لانها صارت دار الاسلام .
وتطلق الهجرة على : مانهى الله عنه ( والمهاجر ما هجر ما نهى الله عنه ) ، وهجر المسلم اخاه فوق ثلاث ايام ، وهجر المرأة فراش زوجها . وقد يجب على المسلم ان يهجر اخاه المسلم العاصي ، كما يجوز له ان يهجر زوجته الناشزة تأديبا.
4- يفيد الحديث ان من نوى عملا صالحا ، فمنعه من القيام به عذر قاهر ، من مرض او وفاة ، او نحو ذلك ، فإنه يثاب عليه . قال البيضاوي : والاعمال لا تصح بلا نية ، لان النية بلا عمل يثاب عليها ، والعمل بلا نية هباء ، ومثال النية في العمل كالروح في الجسد ، فلا بقاء للجسد بلا روح ، ولا ظهور للروح في هذا العالم من غير تعلق بجسد.
5- ويرشدنا الى الاخلاص في العمل والعبادة حتى نحصّل الاجر والثواب في الآخرة ، والتوفيق والفلاح في الدنيا.
6- كل عمل نافع وخير يصبح بالنية والاخلاص وابتغاء رضاء الله تعالى عبادة .
Senin, 28 Mei 2012
Apa Makna Jama'ah? (2)
Engkau adalah seorang kader dakwah, seorang aktivis. Dalam dirimu teramat banyak potensi yang Allah berikan, alhamdulillah. Dengan berbagai potensi itu engkau bisa melakukan banyak hal, teramat sangat banyak hal. Engkau bisa mendaftarkan diri menjadi calon kepala daerah atau calon wakil kepala daerah saat Pilkada di daerahmu. Engkau bisa mendaftarkan diri menjadi calon Presiden atau calon wakil Presiden saat berlangsung Pilpres. Engkau bisa mencalonkan diri dalam berbagai jabatan publik, tanpa harus meminta pertimbangan dan masukan dari siapapun.
Engkau bisa menghimpun orang dan melaksanakan kampanye. Engkau bisa membentuk tim sukses yang akan menjalankan semua agenda pemenangan dirimu. Engkau bisa memenuhi semua persyaratan formal untuk pendaftaran dirimu sebagai calon. Engkau bisa membiayai semua keperluan kampanye dan semua konsekuensi pemenanganmu. Engkau bisa mengibarkan bendera bersama tim sukses dan tim teknis yang engkau bentuk, dan memenuhi semua pojok wilayah dengan spanduk dan poster dirimu.
Dengan segala potensi dan kharisma dirimu, engkau bisa menggerakkan massa, menembus media, dan menjadi perhatian publik. Engkau bisa mempengaruhi pilihan masyarakat dengan rekayasa media dan berbagai program nyata di tengah konstituen pendukungmu. Berbagai resources bisa engkau hadirkan untuk mendukung semua langkah pencalonan dan pemenangan dirimu.
Akhirnya, engkau bisa saja memenangkan pertarungan dalam Pilkada atau dalam Pilpres, Sendiri saja,bersama tim sukses bentukanmu, engkau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan menjadi Presiden. Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak memutuskan sendirian pencalonan dirimu. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau mempercayakan pembahasan mengenai pencalonan dalam Pilkada kepada tim yang dibentuk oleh struktur. Ketika engkau menyerahkan pilihan untuk maju atau tidak maju dalam pilkada kepada keputusan struktur; dan engkau rela untuk maju atau untuk tidak maju dalam pencalonan sesuai keputusan struktur.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak memaksakan diri untuk maju, padahal struktur telah memutuskan yang lain. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau bisa menerima keputusan struktur yang mencalonkan kader atau pihak lain dalam Pilkada atau Pilpres, kendati engkau merasa lebih baik dari kader atau pihak yang dicalonkan tersebut.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau bersedia maju dalam pencalonan, karena telah menjadi keputusan jama’ah. Engkau tidak menolak amanah itu, kecuali dengan alasan yang syar’i. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau berada dalam koordinasi dan konsolidasi bersama struktur dalam menjalankan agenda pencalonan dan pemenangan. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau mengelola semua resources yang engkau miliki dan bisa engkau usahakan, dalam koordinasi dengan struktur.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap semangat terlibat dalam proses pemenangan, kendati yang menjadi calon bukan dirimu, karena struktur telah menetapkan kader lain sebagai calon yang diusung. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap bekerja dengan bersungguh-sungguh mengusahakan kemenangan saudaramu yang telah ditetapkan sebagai calon, kendati engkau sesungguhnya juga menginginkan posisi itu.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap terlibat membantu usaha pengelolaan pemerintahan yang bersih, peduli dan profesional, tatkala kader yang dicalonkan telah berhasil memenangkan pemilihan. Engkau tidak menghambat program yang dicanangkan oleh kepala daerah atau Presiden terpilih, kendati engkau tetap memiliki keinginan untuk maju dalam proses pemilihan lima tahun yang akan datang.
Itulah yang disebut jama’ah.
*)http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2126
Apa Makna Jama’ah?
Dalam Skala Personal
Engkau adalah seorang kader dakwah, seorang aktivis. Dalam dirimu teramat banyak potensi yang Allah berikan, alhamdulillah. Dengan berbagai potensi itu engkau bisa melakukan banyak hal, teramat sangat banyak hal. Engkau bisa mengundang banyak orang untuk datang menghadiri kegiatanmu, engkau bisa mengumpulkan banyak khalayak untuk memenuhi undanganmu. Engkau bisa menggelar ribuan acara dengan nama dan potensimu. Engkau bisa mengatakan, “Sendiri saja, aku bisa melakukan semua ini”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak bekerja sendirian, kendati engkau sendiri mampu melakukan itu. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, kendati engkau sendiri yakin bisa melakukan itu; oleh karenanya engkau memerlukan kebersamaan untuk mengemban amanah dakwah.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau menjadi satu bagian yang utuh dari sebuah kebersamaan, kendati engkau merasa lebih leluasa bekerja sendirian. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada visi jama’i, ada manhaj, ada khuthuwat, ada baramij, yang kesemuanya merupakan produk kolektif, bukan produk individu, kendati engkau bisa membuat itu semua sendirian.
Pada Struktur Ranting
Pada struktur lembaga dakwah di tingkat ranting, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat ranting. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat ranting bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat cabang. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur cabang”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting selalu berkoordinasi dengan cabang, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur cabang, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting menjadi bagian yang utuh dari struktur cabang, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari cabang. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur cabang dengan struktur ranting. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur cabang dengan ranting. Karena sesungguhnya tidak artinya cabang ketika tidak ada ranting, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Pada Struktur Cabang
Pada struktur lembaga dakwah di tingkat cabang, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat cabang. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat cabang bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat daerah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur daerah”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang selalu berkoordinasi dengan pengurus daerah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur daerah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang menjadi bagian yang utuh dari struktur daerah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus daerah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur daerah dengan struktur cabang. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur daerah dengan cabang. Karena sesungguhnya tidak artinya daerah ketika tidak ada cabang, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Pada Struktur Daerah
Aku juga sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat daerah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat daerah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat daerah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat wilayah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur wilayah”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah selalu berkoordinasi dengan pengurus wilayah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur wilayah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah menjadi bagian yang utuh dari struktur wilayah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus wilayah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur wilayah dengan struktur daerah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur wilayah dengan daerah. Karena sesungguhnya tidak artinya wilayah ketika tidak ada daerah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Pada Struktur Wilayah
Aku sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat wilayah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat wilayah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat wilayah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat pusat. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur pusat”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah selalu berkoordinasi dengan pengurus pusat, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur pusat, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah menjadi bagian yang utuh dari struktur pusat, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus pusat. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur pusat dengan struktur wilayah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur pusat dengan wilayah. Karena sesungguhnya tidak artinya pusat ketika tidak ada wilayah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Ya, inilah bangunan jama’ah itu. Ketika semua bagian saling terkait, saling menyatu, saling menjadi bagian utuh dengan bagian lainnya. Setiap bagian sama pentingnya, seperti kita memahami bagian manakah yang penting dari mobil. Roda sama pentingnya dengan kemudi, rem sama pentingnya dengan gas, oli sama pentingnya dengan bahan bakar. Semua bagian menjadi pembentuk bangunan utuh dari jama’ah. Jika berkurang satu bagian, akan berdampak secara sistemik bagi kegiatan dan kehidupan jama’ah.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim).
Semua dari kita memiliki potensi dan kemampuan yang hebat, alhamdulillah. Namun sehebat apapun potensi itu, menjadi kurang bermakna ketika tidak diwadahi jama’ah. Engkau mungkin kurang sabar dalam mengikuti ritme hidup berjama’ah, karena ada aturan, ada panduan, ada pedoman, ada keputusan yang harus dilakukan. Engkau mungkin merasa bosan dengan berbagai agenda hidup berjama’ah yang tampak lamban, padahal engkau bisa melakukan berbagai hal lebih cepat.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Karena jama’ah artinya keterpaduan, kesatuan, keharmonisan, kebersamaan, kesediaan, kerelaan, empati, dan keteraturan. Karena jama’ah artinya perencanaan. koordinasi, konsolidasi, pengaturan, manajemen, komando, pengawasan serta evaluasi. Karena jama’ah artinya penyatuan hati, perasaan, pikiran, dan kegiatan. Karena jama’ah artinya kasih sayang, kelembutan, ketegasan, kedisiplinan dan keserasian.
Karena jama’ah artinya cinta.
*) http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2053
Kamis, 17 Mei 2012
Jeda Dakwah
“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya,” lanjutnya.
“Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu terasa meningkat beratnya,” ungkap Covey.
”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut. Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari, tinggalkan beban pekerjaan anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok,” lanjutnya.
“Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak. Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi. Hidup ini sangat singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di dalam hati kita,” kata Covey.
Bagaimana dengan Beban Dakwah ?
Beban dalam dakwah, lebih sering kita sebut sebagai amanah. Ada teramat sangat banyak amanah dakwah yang kita miliki dan harus klita selesaikan dengan paripurna. Bagaimana cara kita meletakkannya?
Ada saatnya kita harus rehat. Saat bersama keluarga, nikmati seluruh keindahannya. Saat bersama anak-anak, bercanda dan bercengkeramalah dengan mereka. Kita harus memiliki waktu untuk melakukan rekreasi bersama seluruh anggota keluarga, ke pantai, ke gunung, ke desa atau ke kota, atau kemanapun sesuai kondisi dan situasi. Itu adalah bagian “jeda” yang sangat penting bagi setiap aktivis.
Saat mengambil jeda tersebut, jangan terbebani oleh berbagai amanah dakwah yang belum terselesaikan. Karena kita akan kehilangan keindahan rihlah jika terus menerus memikirkan beban dakwah. Kita hanya meletakkan sebentar saja. Kita hanya mengambil jeda sesaat saja. Maka nikmati masa jeda tersebut dengan optimal. Setelah masa jeda itu, kita akan mengambil kembali beban dan amanah dakwah untuk kita kerjakan dengan optimal.
*http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2341
Kontribusikan Semua Potensi untuk Dakwah dan Jama’ah
Tausiyah ini sangat penting dan mendalam. Ada pertanyaan besar yang sering disampaikan orang, mengapa kita bisa memiliki banyak kegiatan, bersambung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya, seakan tidak pernah berhenti dan istirahat. Pertanyaan mereka lebih ke arah, “Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk berbagai kegiatan tersebut?” Ternyata kita sendiri bahkan tidak pernah menghitungnya, karena kita melakukan saja, bekerja saja, berkegiatan saja, tanpa pernah menghitung dengan rinci semua pengeluaran kita.
Lihatlah tradisi dakwah dan jama’ah yang sudah kita bangun selama ini. Pertemuan dilakukan dari rumah ke rumah, sekaligus silaturahim antar kader dakwah. Saat menghadiri pertemuan, kita datang dengan mengendarai motor, mobil, atau menggunakan angkutan umum. Kita tidak pernah meminta ganti atas semua yang kita keluarkan secara pribadi, demi kelancaran kegiatan dakwah. Inilah salah satu cara untuk mengkontribusikan semua potensi yang kita miliki untuk dakwah dan jama’ah.
Para peserta datang sendiri, tanpa meminta ganti ongkos transport. Jika harus mengganti ongkos transport, maka akan terkumpul jumlah yang cukup besar, karena kader datang dari berbagai tempat yang berjauhan. Namun kehadiran kader dalam sebuah pertemuan dakwah, lebih sering tidak dikaitkan dengan ongkos transport, karena sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan selama ini. Semua datang dengan kecintaan, semangat, pengorbanan dan harapan. Dengan demikian untuk satu pertemuan, hampir tidak ada dana yang perlu dikeluarkan karena semua sudah ditanggung oleh masing-masing kader yang menjadi peserta.
Kecuali untuk acara tertentu yang berskala nasional, memang ada sedikit “hitungan” yang berbeda, karena ada renik-renik dan unsur publisitas tertentu yang ingin dimunculkan. Secara umum, sekian banyak agenda dakwah yang telah berjalan rutin selama ini, menjadi tanggungan setiap kader, tanpa ada “hitungan” ganti. Semua kader memahami, ganti akan diberikan secara langsung oleh Allah dalam jumlah yang berlipat, jauh lebih banyak dari apa yang mereka kontribusikan.
Logika seperti ini sepertinya sulit dipahami masyarakat pada umumnya, bahwa ada banyak agenda kegiatan organisasi bisa berjalan dengan baik dan rutin, tanpa perlu kucuran dana dari organisasi. Biasanya, pada organisasi secara umum, setiap agenda kegiatan, selalu menimbulkan anggaran. Semakin banyak kegiatan, semakin besar pula anggaran yang harus dikeluarkan. Kenyataannya, ketika tidak disediakan anggaran, kegiatan tidak bisa berjalan. Tidak begitu dengan organisasi dakwah. Logika yang berkembang adalah tadhiyah, sedangkan tadhiyah muncul dari kepahaman dan keikhlasan.
Tausiyah ustadz Subaryanto tersebut mengingatkan kita semua tentang urgensi kontribusi. Kader telah terbiasa dengan jalan kontribusi, bahkan bagi mereka, hal ini sudah tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Kontribusi sudah menjadi akhlak, sudah menjadi aktivitas spontan, dan harian. Tidak perlu berpikir apakah akan meminjamkan ruangan untuk pertemuan, tidak perlu pertimbangan apakah akan meminjamkan mobil untuk perjalanan dakwah, tidak perlu merenung untuk memberikan fasilitas guna kelancaran kegiatan dakwah dan jama’ah. Semua sudah berjalan dengan sendirinya, tanpa dihitung-hitung dan diingat-ingat.
Semua tidak dihitung, semua tidak diingat, semua tidak dicatat. Semua dikerjakan sepenuh kecintaan, sepenuh kesadaran, sepenuh kepahaman. Semua dikeluarkan dengan harapan akan mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Semua dikeluarkan tanpa perasaan menyesal. Hal ini bisa terjadi, karena kader memahami bahwa kontribusi adalah kunci keberlanjutan dakwah dan jama’ah. Kontribusi adalah jalan menuju kemenangan. Kontribusi adalah kekuatan.
Sungguh, kontribusi telah menjadi jalan hidup kami.
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
19.43
Halim Ace



